Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Februari 2012

The Sweet Memory

Ini adalah minggu dimana Zza, Hestin, Anisa, dan juga Ella untuk berlibur setelah sekian lama stress akibat ujian akhir semester yang mereka jalani selama 2 minggu. Mereka sudah bersahabat sejak kecil, mereka tinggal di satu komplek perumahan yang ada di pinggiran kota tahu itu. Mereka berempat bersepakat untuk mengadakan liburan bersama ke luar kota. Dan akhirnya mereka menjatuhkan pilihannya ke kota gudeg, yaitu Yogyakata. Akhirnya hari yang ditentukan untuk berangkat berlibur telah tiba. Mereka melakukan perjalanan dengan kereta api. Mereka janjian untuk bertemu di stasiun Kota Kediri.
                Zza sudah datang sedari tadi duduk di depan peron, menunggu kedatangan sahabat-sahabatnya. Dia berdiri menyandar tembok dingin bercat kuning, bangunan yang sangat terlihat klasik, usianya jauh lebih tua dibanding usia dirinya. Tiba-tiba Ella dan Anisa datang.
                “Zza, Kamu udah datang dari tadi ?” Tanya Ella sambil menaruh tasnya dilantai.
                “Yaaah… gak lihat apa udah jamuran niiih,” jawab Zza sewot.
                “Hmm, nunggu gitu doank udah marah-marah, tau gak kalau Kamu kayak gitu yang ada mukamu tuh jadi mirip emak-emak usia 50-an tau,” timpal Anisa.
                “Noooh, bener kata Anisa..” kata Ella.
                “Idiih… Apa-apaan sih ini ?? Malah nyumpahin aku kayak emak-emak,” jawab Zza.
                Ella dan Anisa hanya tersenyum..
“ Udah hampir jam 2 nih, Hestin mana sih ??” lanjut Zza
“Sabar… bentar lagi juga nyampe,” jawab Anisa
Sejenak hening, mereka sibuk memeriksa barang bawaan masing-masing. Tiba- tiba Hestin datang setengah berlari diikuti seorang cowok yang agak bertampang kriminal dibelakangnya.
“Heeeiiii… Teman-teman maaf yah aku telat, tapi belum telat keretanya kan ??” tanya Hestin sambil mengatur pernafasannya.
“Hmm, ngga apa kok, ayo masuk,” jawab Ella
“Ayok,” kata Hestin
“Ya ayok Tiin, kita bertiga kan uda di depan kamu,” kata Zza sambil membalikkan badannya yang tadi berjalan di depan Hestin.
“Hehe, maksudku sodara sepupuku,” jawab Hestin cengengesan sambil menunjuk kearah cowok yang mengikuti Hestin yang dianggap sahabat-sahabatnya itu adalah pencopet, penculik cewek cantik, atau bangsa kriminal lainnya.
“Heeii,” sapa sodara Hestin dengan melambaikan tangannya dan tersenyum norak.
Anisa, Ella dan Zza bengong melihat ekspresi sodara sepupu Hestin yang agak genit. Mereka berlima kemudian berjalan masuk kedalam ruang tunggu.
***
“Tin, Kamu kok nggak bilang ke kita sih kalau mau ngajak sodara kamu ?” Tanya Zza
“Aduh maaf Zza, soalnya ini darurat banget, tadi pagi orangtua dia tuh datang ke rumahku. Trus nitipin dia tuh gara-gara orangtua dia mau umrah,” jawab Hestin
“Idiiih, udah gede dititipin segala, trus kenapa ikut ?”
“Dia pengen ikut Zza, kata dia, dia seumur hidup belum pernah ke Yogya, gitu… Makanya aku ngga tega kalau mau menolak keinginannya. Lagian kalau ga diturutin, dia tuh bakal menghantuin aku selama liburan sama kalian,”
“Hmmm.. Jadi sekarang ceritanya dia ga ngehantuin kamu tapi malah membayangi kamu gitu Tiin ? Hmm ya sudahlah tak apa..”
Tiba- tiba sodara sepupu Hestin mengulurkan tangannya kepada Zza yang duduk disamping Hestin.
“Kenalin, aku Jo.. Nama lengkapnya Johan,” sambil mengedipkan salah satu matanya dengan tatapan mengoda.
“Izza, panggil aja Zza,” jawab Zza sambil menangkupkan tangannya di depan dada.
“Bukan muhrim,” lanjut Zza
“Oh iya ngga apa. Btw bapak kamu dokter jantung ya ?”
“Ngga tuh,” jawab Zza sambil nyengir
“Tapi kok jantungku jadi berdebar-debar ya ada di deket kamu,” lagi-lagi Johan menunjukkan muka genitnya yang mungkin membuat cewek yang liat malah koma tiga hari tiga malam.
“Haaah, ngga nyambung tau,” jawab Zza jutek
“Eh, keretanya udah datang tuh,” teriak Ella
“Ayok cepetan,” teriak Zza sambil mengangkat barang bawaannya.
Mereka kemudian naik ke dalam kereta yang menuju ke kota pelajar itu.
***
Lima jam berlalu.. Sampailah mereka di kota yang dipimpin oleh Hamengku Buwono itu.
“Capeekk,” keluh Anisa turun dari kereta.
“Hmm, ini belum seberapa, besok kita bakal teler nih keliling ni kota,” jawab Hestin
Sementara Ella dan Zza hanya menunjukkan wajah galaunya karena setengah perjalanan mereka berdiri.
“Penginapan Rorojonggrang itu jauh ngga dari sini ?” Tanya Zza pada Hestin
“Ngga kok Zza, kata nyokap sih deket dari stasiun, “
“Tapi kan nyokap kamu sepuluh tahun yang lalu ke penginapan itu, kalau penginapan itu ternyata sudah bangkrut atau pindah gimana ? Masak kita sewa hotel sih ? kan mahal,”
“Bentar aku Tanya tukang becak itu yah,”
Hestin menghampiri tukang becak yang mangkal di sekitar stasiun itu.
“Permisi  Pak, numpang tanya,”
“Iya Ngger, ada yang bisa bapak bantu ?”
“ Bapak tahu alamat penginapan Rorojonggrang ?”
Bapak paruh baya itu sedikit terperanjat kaget mendengar pertanyaan Hestin, kemudian dia memandang Hestin. Hestin tak mengerti kenapa orang tua itu memandanginya aneh, Hestin hanya berfikir mungkin orang ini aneh melihat orang asing yang cantik seperti dia.
“Ada apa Ngger ?”
“Kami mau menginap di tempat itu Pak, kata ibu saya penginapan itu murah, jadi pas untuk kantong siswa seperti kami,” jawab Hestin seaadanya.
“Penginapan itu ada di ujung gang belakang stasiun Ngger, tapi sepertinya sudah lama penginapan itu jarang pengunjungnya,”
“Ooh, di sana ya Pak ?? Ya sudah Pak, maturnuwun,” kata Hestin seraya pergi meninggalkan Tukang becak paruh baya itu.
Hestin kembali kepada teman-temannya, kemudian ia menunjukkan arah ke penginapan itu. Akhirnya mereka dapat menemukan penginapan kecil itu. Mereka disambut dengan sepasang patung Reco Penthung, selanjutnya mereka terperanjat dengan pesona paras putri cantik dalam lukisan yang tergantung di tembok tua lobby penginapan itu. Dari dalam seorang ibu paruh baya menyambut kami dengan sangat ramah.
“Haduuh, ada tamu to… Ada yang bisa ibu bantu Nak ??” tanya ibu itu dengan lagam medhoknya.
“Iya Bu, Kami ingin menginap disini selama kami liburan di sini Bu,” jawab Zza
“Ooh.. Iya, dari mana ini Nak ?” tanya wanita berkebaya putih itu
“Kami dari Kediri Buu, kami memesan 3 ruang kamar ya Bu,” jawab Ella
“Oooh, injeh,” jawab Ibu itu..
“Mari, monggo,” lanjut ibu itu sambil menunjukkan dimana kamar kami.
Malam itu kami tertidur pulas karena lelah dalam perjalanan, dan mempersiapkan hari esok untuk berwisata.
***
Kukuruyuuukkk… Suara jago berkokok bersahut-sahutan…
Ella terbangun, sedangkan Zza yang tidur disampingnya masih memeluk gulingnya yang basah karena ilernya. Ella keluar dari kamar, ia melihat pintu kamar Hestin dan Anisa masih tertutup, berarti mereka juga masih tidur. Ella berjalan menuju ruang utama yang juga dijadikan ruang makan penginapan ini yang terletak persis ditengah-tengah bangunan kuno ini. Ruangan ini memanjang kesamping dan terdapat jendela besar ditembok samping itu. Ella berjalan menuju jendela itu, kemudian ia membukanya, menghirup udara yang masih segar, membuat setiap orang akan betah tinggal di situ.  Remang-remang ia mendengar alunan gamelan yang sangat khas di kota ini. Tiba-tiba ia dikagetkan dengan tangan yang menyentuh pundaknya.
“Ndok, kok sudah bangun,” tanya ibu itu dengan senyum
“Iya Bu, saya mendengar gamelan Bu.. Enak sekali didengar,” jawab Ella
“Oalaah, ya tinggal di sini saja Ndok, pasti tiap hari mendengar gamelan yang merdu itu,” kata ibu itu seraya meninggalkan Ella menuju meja makan untuk menyiapkan makan.
“Hmm, ya nanti sih pengennya kuliah di sini Bu,” jawab Ella
                Ibu itu hanya diam melanjutkan kesibukannya..
                “Bu, maaf kok penginapannya sepi ya Bu ? Ibu tinggal sendiri mengurus penginapan ini ?”
                “Iya Ndok, sekarang itu penginapan gini kalah pamor sama hotel, kan di sini itu semuanya murah Ndok, ndak ada yang mewah,” jawab ibu itu dengan senyumnya yang ramah.
                Ella terdiam, tiba-tiba datang suara ribut dari dalam. Rupanya Hestin, Anisa, dan Zza sudah bangun.
                "Waah, pagi-pagi udah ada hidangan lezat nih.." kata Zza
                "Hiiih, emang kamu udah cuci muka ? gosok gigi ?" tanya Anisa pada Zza
                Hestin ikut membantu Bu Surti pemilik penginapan itu bersama Ella. Sedangkan Zza dan Anisa menuju ke kamar mandi. Tidak lama kemudian Hestin, Zza, Ella, dan juga Anisa sudah duduk di kursi masing-masing.
                "Mari makaaan," teriak Zza semangat
                Tiba-tiba Johan datang...
                "Heii, aku kok ngga diajak sih ?" kata Johan sembari mangambil kursi dan duduk disamping Zza.
                "Siapa suruh bangun siang ?" jawab Zza sewot
                Johan hanya tersenyum, kemudian dia berkata pada Zza.
                "Kamu cepetan makan gih, ntar gak enak badan loh kalau telat makan,"
                "Lebih gak enak kalau kamu tanyain," jawab Zza sewot
                Johan malah bengong menunjukkan wajah bodoh seperti penderita syndrom.
***
                Mereka keluar dari penginapan dan menuju ke tempat wisata pertama, yaitu ke Monumen Jogja Kembali, mereka berjalan-jalan sampai puas. Perjalanan mereka penuh dengan canda dan tawa ceria, sedikit diwarnai gombalan Johan yang selalu di jawab sewot oleh Zza, menambah kesan perjalanan mereka.
                "Zza, kamu punya uang recehan ?" tanya Johan pada Zza
                "Buat apa ?"
                "Buat parkir di hati kamu,"
                "Hadeeh, perasaan juga udah ada tulisan "DILARANG PARKIR DI DEPAN PINTU", haaah, gimana sih," jawab Zza
***
                Selanjutnya mereka menuju ke malioboro, pasar yang menyediakan aneka batik dan kreasi unik lainnya disini.  Hestin dan teman-tenmannya menghabiskan waktu paling lama disini, mereka shopping dan membelikan oleh-oleh untuk keluarga mereka di rumah. Setelah puas dan merasa berat membawa barang bawaan, mereka memutuskan untuk kembali ke penginapan dan sebelumnya mereka mampir ke candi prambanan. Mereka sangat antusias masuk ke candi peninggalan sejarah ini. Dan mereka sempt takjub melihat patung yang katanya adalah patung Rorojnggrang yang masih sangat terlihat cantik sekali.
                "Cantik banget yah," kata Ella memandangi patung itu
                "Iya laah, secara putri gitu loh," jawab Anisa
                Sementara itu Zza, Hestin dan Johan malah asyik berfoto ria.
                Selanjutnya mereka pulang menuju penginapan di malam hari, mereka kembali disambut senyuman wanita cantik dalam lukisan yang tergantung di lobby itu. Bu Surti pun keluar.
                "Bagaimana jalan-jalannya ?" tanya dia
                "Hmm, seru Bu," jawab Zza sekenanya
                "Bu, itu putri siapa sih Bu, legenda dari mana ?" tanya Ella tiba-tiba sambil menunjuk kearah lukisan itu.
                "Ooh itu, itu keponakan Ibu, tapi dia sudah lama tiada,"
                "Maaf Bu," kata Ella
                "Ndak apa-apa Ndok, sudah sana istirahat,"
                "Iya Bu,"
                Kemudian mereka berlima masuk kedalam kamar masing-masing, mereka berlalu. Lukisan wanita cantik mengenakan pakaian ala keraton itu pun meneteskan air mata darah dari matanya.
***
                Ella ketakutan dan menggigil di sudut kamar, ia merasa melihat ada seorang gadis yang ketakutan dan berlari kemana pun kakinya melangkah menghindari kejaran lelaki yang menginginkan kegadisannya. Namun apa daya gadis itu terjatuh dan dibawa lari oleh lelaki itu dan lelaki itu membunuhnya. Mayat gadis itu ia simpan di tempat bekas sumur tua yang sudah tak berfungsi dan menutupnya dengan batu besar.
                "Aaaaaaaaaa," Ella menjerit
                Zza terbangun, dan menbangunkan Ella.
                "Laaa, bangun, kamu kenapa ??" Zza membangunkan Ella sambil menggoyang-goyangkan badanya.
                Ella terbangun, namun ketika ia membuka matanya, ia kembali menjerit.
                "Aaaaaa, itu Zza dibelakang kamu,"
                "Astaghfirullahhal'adziim," seru Zza terhentak
                Zza terbelalak kaget melihat sosok wanita yang mukanya sudah hancur dengan mengenakan pakaian keraton. Kulit yang pucat pasi dan bagian tangan dan kaki yang mengeluarkan darah membuat Zza dan Ella sangat ketakutan.
                "Kamu siapa ?" tanya Zza
                "Aku wanita dalam lukisan itu, tolong aku.. Keluarkan aku dari tempat gelap itu," sosok itu pun menghilang.
                Esok harinya Ella dan Zza menceritakan hal itu pada teman-temannya dan Bu Surti pemilik penginapan itu. Mereka mencari sumur tua yang ada dalam mimpi Ella. Akhirnya mereka menemukan sebuah sumur tua di kebun belakang penginapan milik Bu Surti itu yang ternyata Bu Surti juga tahu kemana perginya keponakannya yang telah lama menghilang. Sumur itu dibuka dan ditemukan tulang belulang milik Andhini keponakan Bu Surti yang menjadi penari pada masa hidupnya. Tulang belulang itu dikuburkan secara wajar, setelah itu penginapan kecil itu ramai kembali. Ternyata gamelan yang didengar Ella tempo hari adalah musik iringan tarian dimana Andhinilah yang menjadi sang penari.
                Ella dan teman-temannya kembali pulang ke Kediri membawa sejuta kesan dan cerita yang sangat sulit dilupakan.
Read More - The Sweet Memory

Sabtu, 14 Januari 2012

Villa Rorojonggrang


Liburan tahun ini cukup panjang, sekitar dua minggu. Sebelum liburan berlangsung Morgan telah berencana bersama Bisma untuk liburan keluar kota. Akhirnya mereka memutusan untuk liburan ke Magelang dan bertemu disana dengan teman – teman mereka yang lain menikmati indahnya candi tertua di dunia. Mereka berencana untuk menghabiskan dua minggu penuh di Magelang dan sekitarnya sampai akhirnya mereka telah sampai ke tempat tujuan dengan membawa sebuah mobil mewah. Mereka bersepakat untuk mencari villa di daerah yang dekat dengan objek wisata.
Setelah beberapa kali berkeliling, akhirnya mereka menemukan sebuah villa yang tempatnya lumayan dekat dengan objek wisata yang letaknya sedikit di perbukitan. Namun setelah melihat keadaan villa itu, esok harinya Bisma mengurungkan niatnya dan akan menginap di rumah saudaranya yang ada di kota itu. Bisma mendadak saja bergidik ngeri saat melihat villa itu. Namun, Morgan tetap bersikukuh untuk ingin tinggal ditempat yang bernama “Villa Rorojonggrang” itu selama ia berlibur di ibu kota Jawa Tengah itu. Bisma seperti melihat bangunan tua dan kuburan – kuburan tak bertuan. Bangunan itu sesungguhnya sudah bobrok. Dindingnya sudah keropos, gentengnya banyak yang hancur dan kaca – kaca jendelanya banyak yang pecah.
Bisma ingin meyakinkan kalau dia tidak salah langkah. Tapi villa itu benar – benar sudah bobrok dan hancur. Padahal kemarin sore saat ia dan Morgan lewat, villa itu kelihatan baik – baik saja. Rapi dan bersih. Kenapa saat ini villa itu berubah ? Sarang laba – laba melekat di dinding dan pintu – pintu masuk. Anak tangga yang terbuat dari papan itu sudah reot. Satu anak tangganya sudah keropos dan putus. Ruang dapurnya juga seperti gubuk tua yang dihinggapi sarang laba – laba dan genangan air.
“Villa yang kamu tempati itu seram sekali Gan,” komentar Bisma siang itu di sebuah warung dekat candi seribu stupa itu.
“Seram bagaimana Bis ? Villa itu selalu dibersihkan Bi Ijah pembantu yang punya villa itu, tempatnya enak lo Bis,”
“Bersih bagaimana ? Aku melihat villa itu bagaikan seonggok rumah tua yang sudah suram. Banyak sarang laba – laba, pecahan genteng, pecahan kaca dan bau busuk. Makanya dulu aku ngga jadi ikut sewa villa itu,”
“Kamu jangan mengada – ada Bis. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri villa itu bersih dan terawat,”
“Kamu melihatnya dari sudut pandang mana Gan ?? Kamu lebih baik pindah dari villa itu dan tinggal sama aku di tempat saudaraku atau di tempat Ilham.”
“Halaa, kamu itu sama saja seperti Ilham. Kenapa sih kalian sirik banget sama aku. Saat aku mulai merasa betah, kalian justru menyuruhku untuk pindah. Sebenarnya maksud kalian itu apa sih Bis ??”
“Aku tidak bermaksud apa – apa Gan. Aku hanya mengingatkan kamu saja. Jangan sampai kau terpancing dengan makhluk halus di dalamnya,”
“Sudahlah Bis. Aku itu pusing mendengarkan komentarmu. Mending kamu tidak usah ikut campur dalam kehidupanku saat ini. Dan sekarang kita buat rencana besok mau kemana.”
“Tapi Gan, dengar dulu penjelasanku,”
“Sudahlah Bis, aku ngga ada waktu buat ngurusin cerocosanmu,”
“Hmmm.. Okelah aku ngga akan ikut campur dengan kehidupanmu. Tapi ingat Gan, villa itu berhantu,” Bisma berlalu dari Morgan. Morgan terpaku dengan tatapan kesal.

Morgan membasuh wajahnya, kemudian duduk di balkon belakang. Ia berharap Kaniya datang menemaninya. Dan harapannya terkabul saat melihat Kaniya berjalan perlahan menghampirinya.
            “Sepertinya kamu kelelahan ? Dari mana saja ?” tanya Kaniya seraya duduk di dekat Morgan.
            “Tadi kumpul sama teman – teman,”
            “Ooh.. Aku buatkan teh ya,”
            “Hh, tidak usah Kan. Tidak usah repot – repot,” cegah Morgan saat Kaniya beranjak pergi.
            “Kamu disini sudah cukup hilang kok capekku,” kata Morgan seraya melempar senyum manisnya.
Mereka kemudian ngobrol seputar kehidupan, falsafah dan psikologi. Malam ceapt berlalu. Seperti hari – hari kemarin, saat malam tengah merangkak tua, Morgan menguap lebar. Ngantuk yang sangat luar biasa dan begitulah saat pagi menjelma. Morgan tidak menemukan sosok Kaniya. Hingga ia merasakan rindu. Pertemuan itu menumbuhkan benih – benih cinta dalam hati Morgan. Sesekali ia bernyanyi.
Ada cinta yang ku rasakan saat bertatap dalam canda
Ada cinta yang kau getarkan saat ku resah dalam harap
Oh indahnya cinta….

            Morgan mendadak muntah darah. Darah segar keluar dari mulut dan hidungnya. Setelah badannya mengalami panas tinggi hanya dalam waktu semalam, Morgan terbelalak melihat muntahan itu. Dengan tertatih ia mengambil telepon genggamnya diatas meja, ia menekan tombol ponsel milik Bisma. Setelah nyambung Morgan langsung meminta tolong agar Bisma menjemputnya di villa.
            Setelah menjemput Morgan, Bisma membawanya ke dokter. Namun analisis dokter tidaj menunjukkan gejala penyakit yang diderita Morgan. Bisma langsung saja membawa Morgan ke orang pintar yang bisa mengobati penyakit tak wajar seperti yang dialami Morgan.
            “Ini bukan penyakit biasa,” kata lelaki tua berjubah putih dengan peci di kepalanya yang kerap disapa Pak Udin, lengkapnya Qamarudin, karena mungkin terlalu sering bermeditasi di kamar sehingga ia mempunyai nama seperti itu. Yah Udin yang suka di kamar. Beliau adalah orang pintar yang sangat disegani.
            “Apa ?? Maksud Bapak ?? Kalau ngga biasa, luar biasa dong Pak ?? Berarti obatnya juga di luar kota dong Pak ??” Bisma terbelalak sedangkan Morgan bertanya keheranan. Pak Udin memandang wajah Morgan dan Bisma bergantian. Mungkin beliau agak heran dengan wajah mereka yang mirip personil sm*sh boy band pertama di Indonesia yang kini sedang naik daun.
            Bisma dan Morgan terkejut dan saling berpandangan. Mungkin Bisma berpikir kalau pak Udin tertarik dengan salah satu dari mereka, namun pikiran itu segera ia tepis jauh – jauh yang terlihat dari ekspresi mukanya, menunjukkan wajah bodoh.
            “Kamu sudah dikuasai makhluk halus. Mereka sangat menginginkan kehadiranmu. Saya akan memberikan penawarnya. Tapi ingat setelah minum obat ini jangan bergaul dengan makhluk halus lagi dan tetaplah senantiasa berdzikir,”
            Morgan semakin bingung. Siapa yang berhubungan dengan makhluk halus ? Batinya. Setelah acara penyembuhan dan beberapa penangkal untuk Morgan, Bisma membawa Morgan pulang ke rumah saudaranya. Penyakitnya pun berangsur sembuh. Tapi sejak itu ia tidak melihat sosok Kaniya lagi. Mengapa pada saat ia sakit Kaniya justru tidak muncul, padahal ia sangat membutuhkan Kaniya pada saat itu.

            “Sebaiknya kamu menghabiskan sisa liburan tinggal sama aku aja deh Gan,” kata Bisma.
            “Hmm, gimana ya Bis… Aku kan udah bayar penuh tu villa selama 2 minggu. Lagian aku juga ngga mau ngrepotin keluarga kamu lagi Bis,” jawab Morgan.
            “Alaaah, kita tu ngga ngerasa direpotin Gan, anggap keluarga sendiri aja Gan. Kita kan uda sahabatan sejak kecil,”
            “Hmm, iya makasih Bis. Tapi mending aku tinggal di villa itu aja deh. Anterin aku sekarang yah,” pinta Morgan pada Bisma.
            “Hmmm… Terserah kamu aja deh, heran deh dulu ibu kamu tu ngidam batu kali yak… Kok kamu keras kepala banget,” jawab Bisma.
            “Haddeeeh… Malah ngomongin nyokapku.. Udah ayo anterin,”
            “Ayo..”
            “Sebaiknya kamu pindah saja dari rumah tua itu Nak,” kata seorang ibu paruh baya yang melihat keadaan Morgan dengan wajah pucat turun dari mobil.
            “Memangnya kenapa Bu ??” tanyanya heran.
            “Ibu tidak ingin melihat terjadi apa – apa sama kamu. Kamu orang baik – baik,”
            “Ahh, Ibu berlebihan. Tidak ada apa – apa kok Bu, saya biasa aja. Ibu masih percaya sama hantu ?”
            “Bukan begitu Nak. Tapi menurut kejadian yang sudah – sudah….”
            “Sudahlah Bu,” potong Morgan cepat. Ia tak ingin meneruskan kata –kata wanita paruh baya itu. Mungkin lebih baik begitu. Daripada ia tahu semuanya tentang villa itu. Bisa – bisa ia mati ketakutan. Padahal Morgan sudah bayar penuh sewa villa itu selama 2 minggu, jadi sayang kalau buru – buru pindah.
            Sore itu Morgan sengaja melihat – lihat halaman belakang yang kini ditumbuhi semak belukar. Di sisi samping memang agak gersang. Sedangkan di halaman belakang ditumbuhi pohon – pohon besar seperti mangga dan rambutan. Tiba – tiba ia tersandung sebuah benda keras berwarna keputihan. Ia memperhatikan lekat – lekat. Kemudian menariknya dari dalam tanah. Morgan terkejut alang kepalang. Sebuah tengkorak manusia. Buru- buru ia meninggalkan tempat itu dan naik ke lantai dua. Masuk ke dalam kamarnya dan mengatur detak jantungnya.
            Villa itu memang terlihat semakin sepi dan senyap. Morgan tidak menemukan orang – orang yang kemarin – kemarin juga menyewa salah satu dari kamar yang ada di villa itu. Bahkan resepsionisnya pun tidak ada. Ini sudah hari kedelapan ia menempati kamar villa bernomor 16.
            Mendadak saja kamar Morgan menjadi gelap. Tapi hanya sejenak, lalu terang kembali. Namun menggambarkan suasana asing di depan Morgan. Pintu kamarnya terbuka, dan ia melihat seorang gadis belia keluar dari kamar bernomor 17 yang tepat terletak di depan kamarnya. Gadis itu terlihat sangat sedih. Kegalauannya terlihat dari raut mukanya yang selalu murung karena ditinggal kekasihnya yang tak mau bertanggung jawab atas bayi yang dikandungnya.
            Berselang kejadian itu, Morgan melihat beberapa pembantaian yang terjadi di depan kamarnya itu yang dia tak tahu siapa pemilik dari kamar itu. Kejadian itu sudah lama sekali. Dan bayangan itu menghilang begitu saja. Suasana kembali ke asal. Sebuah kamar tiga kali empat yang sudah rapuh.
            Sosok mengerikan di depannya masih melotot tajam dengan kemarahan yang membara. Potongan – potongan tangan dengan kuku – kuku yang tajam berwarna kehitaman mencoba mencekik leher Morgan. Morgan tercekat dan membaca beberapa ayat kursi, bertasbih dan berdzikir mengusir setan yang gentayangan. Kemudian ia melemparkan sebuah tasbih pada sosok kepala yang bunting mengerikan itu.
            Sosok itu menyeringai dan menjerit kepanasan. Kepalanya melepuh seperti terbakar. Mengeluarkan asap dan bau yang tidak sedap. Dibarengi erangan yang melengking sosok mngerikan itu hilang terhembus angin malam.
            Esok paginya…
            Morgan ingin sekali menanyakan kejadian apa sebenarnya yang terjadi di rumah itu. Tapi pada siapa ia mengorek semua cerita itu. Morgan lalu teringat dengan wanita paruh baya yang tinggal di pinggir jalan depan gang menuju villa itu. Mungkin ia mengetahui sejarah rumah itu. Dan Morgan bergegas menuju rumah ibu itu.
            Di rumah itu dulu terjadi pembantaian berdarah. Pembantaian yang dilakukan satu keluarga. Dulu, sepuluh tahun lalu. Kejadian itu menimpa seorang gadis berusia enam belas tahun yang menjalin cinta dengan pacarnya dan hubungan mereka itu terlalu jauh sampai akhirnya gadis itu hamil. Kedua orangtuanya murka dan menyiksa anaknya untuk menggugurkan kandungannya. Tapi si gadis bersikukuh untuk mempertahankan bayi itu.
            Sang pacar dibantai oleh ayah si gadis dan tewas mengenaskan. Mayatnya dikubur dibelakang rumah mereka. Melihat kehamilan si gadis sudah lima bulan dan perutnya mulai membuncit sang ayah tidak terima anaknya mengandung anak haram, ia kalap dan mengikat anaknya di tempat tidur. Menganiaya anak gadisnya dengan sadis.
            Entah kenapa yang timbul di otak Morgan adalah Tuty Wibowo yang menyanyikan lagu “Hamil Duluan” kemudian diteruskan oleh Afgan dengan lagunya “Sadis”. Sejenak ia tertegun. Dia seperti melihat kejadian tragis itu. Ia menelan air liurnya yang terasa pahit. Bergidik ngeri sesaat bila mengingat rumah itu.
            “Orang – orang yang menyewa di tempat itu sering dihantui gadis itu,” lanjut wanita tua itu.
            “Siapa gadis itu Bu ?” Tanya Morgan keheranan.
            “Kaniya Rorojonggrang,”
            “Haahhh!!” Morgan terkejut setengah mati. Ia tidak percaya bahwa gadis itu adalah Kaniya.
            “Tidak mungkin Bu. Gadis itu tidak mungkin Kaniya,”
            Ibu itu tersenyum kecut, ”Kau sudah bertemu dengannya ??”
            Morgan terdiam dan tertunduk.
            “Saya tahu gadis itu pasti telah menggoda kamu. Semua pengunjung villa itu, terlebih lelaki muda sepertimu tergoda olehnya. Dia putih, cantik, dan menawan. Tapi ketahuilah, seseorang yang berusaha mencintai dia akan dibawanya ke dalam kubur,”
            Morgan terkejut lagi. Sebenarnya ia sempat berpikir kalau kata – kata ibu tadi adalah dibawa ke hatimu.. Eh, malah dibawa ke kuburan, “Tapi Buu..”
            “Sebaiknya cepat kamu kemasi barang – barang kamu dan segera tinggalkan villa itu. Sebelum malam ke sepuluh tiba. Sosok Kaniya akan muncul dengan wujud aslinya. Dan pada saat itu pada dia akan membawa laki – laki yang telah mengasihinya,”
            “Maksud Ibu?”
            “Laki – laki itu akan menjadi penghuni abadi kamar 17 bersama Kaniya,”
            “Lantas ibu yang menawarkan villa itu bagaimana ?”
            “Dia sudah lama meninggal dunia. Dia dihantui oleh arwah anak gadisnya sendiri sendiri dan tewas jatuh dari lantai dua,”
            Morgan menarik napas dalam – dalam. Rasanya tidak sanggup dia kembali ke villa itu sendirian.
            “Kalau kamu ingin tahu wujud Kaniya yang sebenarnya, lihatlah dengan menggunakan kamera, kamu bisa merekam dengan handycam atau kamera digital. Lihatlah Kaniya tidak menyentuh bumi. Dan kamu akan tahu siapa Kaniya yang sebenarnya,”
            Morgan semakin kalut. Buru – buru ia menghubungi Bisma dan Rangga.
            “Bantuin aku dong Bis, aku mau pindah dari villa itu. Jemput aku yah,”
            “Okey, posisi kamu sekarang dimana ?”
            “Aku lagi di jalan menuju villa itu. Kamu bawa mobil kan ?”
            “Siiip, aku segera kesana,”
Morgan berharap Bisma dan Rangga segera tiba di villa itu dalam waktu secepat mungkin. Morgan memerhatikan rumah itu kembali, sebuah bangunan megah yang sombong. Bangunan itu terlihat aslinya. Sebuah rumah bobrok yang sangat mengerikan. Angin berhembus kencang. Pohon – pohon melambai – lambai. Langit tiba – tiba saja berubah gelap. Morgan memberanikan diri masuk ke dalam rumah. Tembok – tembok beton yang dulu dilihatnya sangat kokoh kini berubah menjadi tembok yang rapuh dan penuh lumut. Pecahan genteng dan kaca berserakan di halaman. Sarang laba – laba menempel di dinding beton.
Jendela mengepak – ngepak tertiup angin. Membentur dengan keras beberapa kali. Tapi sejenak angin berhenti. Morgan melihat Kaniya keluar dari kamarnya. Kamar bernomor 17.
Kaniya menatap Morgan dengan tajam. Kini tidak ada senyuman manis yang dulu dipuja Morgan. Wajah Kaniya berubah pucat. Matanya membekas lingkaran biru seperti menahan tangis.
            “Morgaaaan…” gumamnya lirih.
            “Maafkan aku, Kaniya. Aku harus pergi,” ucap Morgan ragu.
            “Jangan tinggalkan aku Gan..”selah Kaniya tersedu. Morgan buru-buru membuka pintu kamarnya. Mengepak semua barangnya dan memasukkan bajunya asal – asalan. Kemudian Morgan teringat kata ibu tadi, secepat mungkin ia menyambar handycam dan menekan tombol on dan record. Alangkah terkejutnya Morgan melihat tubuh Kaniya. Mengerikan sekali. Morgan menjerit kaget.
            “Morgaaan… Jangan tinggalkan aku sendiri Gaan. Aku ingin bersamamu,”
            “Tidak Kan, tidak !” tolak Morgan seraya mundur saat Kaniya mendekatinya. Morgan melihat baju Kaniya berlumuran darah. Orok bayi yang masih merah keluar dari perutnya. Bergerak-gerak dan menangis seperti bayi.
            “Jangan sakiti aku Kan. Aku mohon,”pinta Morgan semakin ketakutan.
            Kaniya terus saja mendekati Morgan. Darah kental menetes dari tubuhnya membasahi lantai. Morgan bergegas bangkit dan menerobos sosok Kaniya di depannya. Tapi mendadak saja ia dihadang sosok-sosok mengerikan di ruang tamu. Sosok orang-orang yang pernah ia temui tempo hari, dan sebagian mati dikamar 17 dengan mengenaskan.
            Morgan menjerit sejadi-jadinya. Minta tolong pada siapa saja yang mendengar jeritannya. Morgan terjerembab di anak tangga. Ia melihat anak tangga yang sudah rapuh dan beberapa mayat lelaki muda seumuran dia yang mati mengenaskan.
            Di luar, langit terlihat semakin menghitam. Angin berhembus kencang. Suara halilintar beberapa kali memecahkan perut bumi. Hujan rintik-rintik  membasahi pelataran. Rangga menyetir dengan kalut. Ia membayangkan Morgan sangat membutuhkan pertolongannya. Beberapa belokan lagi sampailah ia di villa Rorojonggrang, villa yang ditempati Morgan selama liburan.
            Morgan berhadapan dengan sosok Kaniya.
            “Jangan tinggalkan aku Gaan, ikutlah denganku…”
            “Oooo… Tidak bisaaa… Dunia kita sudah berbeda Kaniya. Kembalilah engkau ke duniamu,”
            “Mengapa secepat itu kau meninggalkan aku Gaan.. Kamu udah ngga sayang sama aku lagi ?”
            “Maafkan aku Kaniya, aku tidak bisa bersamamu,”
            Arwah Kaniya terlihat berang dan marah. Ia menghempaskan barang-barang yang ada di ruangan itu. Sedangkan Morgan berusaha lari dari amukan Kaniya dan arwah-arwah lain yang ingin mencekiknya.
            Morgan terpeleset di anak tangga dan terjatuh terguling. Terjerembab di lantai yang penuh dengan pecahan genteng. Kayu-kayu kering dan sampah-sampah berserakan.
            Bisma dan Rangga di depan villa megah berhantu. Morgan melihat sorot lampu mobil yang mengarah ke villa itu. Morgan berusaha lari mencari pintu keluar tapi ia sendiri panik dan bingung. Napasnya tersengal. Keringat dingin membasahi tubuhnya.
Sosok mengerikan itu terus mengejarnya. Terlebih sosok Kaniya yang berubah menjadi sosok yang paling mengerikan. Wajahnya melepuh dan berdarah.. Malam itu menjadi sangat mencekam. Angin kencang menampar-nampar daun jendela. Dengan tergesah-gesah Morgan menerobos sosok-sosok yang tak berwujud asli itu. Ia melihat Bisma dan Rangga masuk sambil menyalakan lampu senter kecil. Mereka terlihat kalut dan panik.
            “Aku disini Bis..Nggaa..”teriak Morgan keras. Mendadak saja ruangan menjadi gelap gulita. Air menetes dari bocoran genteng.
            “Morgaan kamu dimana ??” panggil Bisma keras.
            “Aku di ruang utama Bis. Tolong aku…”
            Rangga dan Bisma segera saja mencari Morgan di ruang utama. Ruang bawah yang kini menjadi tempat penyimpanan sampah dan semak belukar.. mereka kembali dengan senter kecil yang menyinari sebagian saja.
            Angin di luar semakin menggila dengan kilatan cahaya yang dahsyat. Morgan mendengar decak kaki Bisma dan Rangga. Namun sosok Kaniya semakin mendekati Morgan.
            “Gaan jangan pergi dari aku… Aku membutuhkanmu..”
            “Tidak Kan… Aku tidak bisa bersamamu. Biarkan aku pergi,” pekik Morgan panik. Bisma dan Rangga menutup matanya sambil bergidik ngeri.
            “Iiih waaaww, ngerii,” jerit Bisma dan Rangga bersamaan. Kemudian mereka menarik tangan Morgan sambil berlari kencang dan menerobos semua sosok didepannya. Morgan membaca ayat kursi dan berdzikir.
“Pergilah dengan tenang kamu Kaniya…”
“Tidak Gaan, aku ingin bersamamu. Aku bosan sendiri di tengah kegelapan ini. Aku kesepian Gan..”
“Alam kita sudah berbeda Kaniya.. Itu tidak mungkin,”
Kaniya menangis tersedu tangisannya memecahkan gendang telinga setiap orang yang mendengar. Tangisan itu perlahan hilang bersama hujan yang mulai reda. Melebur bersama malam – malam pekat.
“Kuburkan tulang-tulangku dan taburi bunga melati Gaan…” pinta Kaniya sebelum tubuhnya melebur seluruhnya. Kemudian mereka bergegas keluar dari bangunan mengerikan itu dengan tergesah.

 Morgan benar-benar shock dengan kejadian itu. Ia telah berkunjung ke objek wisata rumah hantu yang benar-benar nyata. Liburan yang mengesankan di tempat wisata yang sangat hebat. Villa itu terlihat gersang dan tidak terurus. Rumput menjalar dimana-mana. Morgan masih teringat wajah Kaniya. Setelah menemukan tulang belulang Kaniya yang tersimpan di kamar nomor 17, mereka menguburkannya dengan cara yang ditentukan agama. Morgan menaburi makam Kaniya dengan bunga melati yang semerbak wanginya.
Liburan kurang 4 hari lagi. Kini Morgan tinggal bersama Bisma di rumah omnya Bisma. Morgan mendadak terkejut saat melihat plangkat kamar Bisma berangka 17. AAARRRGGGKKK…..


7 Januari 2012
Read More - Villa Rorojonggrang